Archive for the ‘Renungan Bantal’ Category

AllahYa Allah aku telah berdosa
dan aku yakin Kau maha mengetahui.

Ya Allah…
Ku butuh pertolongan-Mu.
Buatlah ku tuk selalu mengingat-Mu,
Sebagaiman Kau telah mengingatku.

Ya Allah…
Aku butuh cinta dan ampunan-Mu,
maka buatlah aku tuk selalu mencintai-Mu,
Sebagaimana Kau telah telah mencintaiku.

Ya Allah..
Dan aku akan berjuang di jalan-Mu
dengan setiap energi yang ada padaku

Ya Allah lindungilah aku.
dari tipu daya jin dan manusia juga dari kesesatan dan kemaksiatan.
Aku sangat takut bahwa aku kan jadi salah satu dari mereka,
Ya Allah, selamatkanlah aku dari salah satu dari mereka.

Ya Allah…
Aku tahu aku berdosa,
Aku tahu aku keras hati,
jadi ingatkanlah aku,
dan kan kucoba tuk memahaminya.

Ya Allah…
kadang ku hilang arah dan dalam kehampaan,
Karenanya tolonglah hamba-Mu yang lemah ini.
(lebih…)

Bersyukurkah..!?

Posted: Februari 14, 2010 in Artikel, Refresh, Renungan Bantal
Tag:

Sombong kalo kita ga bersyukur dan masih merasa kurang dan selalu kurang. BERSYUKUR kah..?!
as

Diambil dari sini Http: klik di sini

JANGAN BERSEDIH

Posted: Januari 16, 2010 in Kliping, Refresh, Renungan Bantal
Tag:,

devletJanganlah Engkau Bersedih….  Jangan bersedih, sebab rasa sedih akan selalu mengganggumu dengan kenangan masa lalu, akan membuatmu khawatir dengan segala kemungkinan di masa yang akan datang, dan akan menyia-nyiakan kesempatan pada hari ini. Jangan bersedih, sebab rasa sedih hanya akan membuat hati menjadi kecut, wajah menjadi muram, semangat akan padam, dan harapan akan menghilang. Jangan bersedih, sebab rasa kesediahan hanya akan membuat musuh gembira, membuat kawan bersedih, membuat orang yang mendengki senang,

dan membuat hakikat-hakikat yang ada berubah. Jangan bersedih, sebab rasa sedih sama dengan menentang qadha’ dan menyesali sesuatu yang pasti, jauh dari sikap lembut dan benci terhadap nikmat. Jangan bersedih, sebab rasa sedih tidak akan pernah mengembalikan sesuatu yang hilang dan semua yang telah pergi, tidak akan membangkitkan orang yang telah mati, tidak mampu menolak takdir, dan tidak mendatangkan manfaat. Jangan bersedih, sebab rasa sedih itu datangnya dari syetan dan kesedihan itu adalah rasa putus asa yang menakutkan, kefakiran yang menimpa, putus asa yang berkelanjutan, depresi yang harus dihadapi, dan kegagalan yang menyakitkan.

Baca jika anda ada waktu untuk ALLAH.
Bacalah hingga habis.

ALLAH, bila saya membaca ini, saya pikir saya tidak ada waktu untuk ini….
Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar bahwa pemikiran semacam inilah yang …. Sebenarnya, menimbulkan pelbagai masalah di dunia ini. Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari Jum’at…… Mungkin malam JUM’AT? Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA? Kita suka ALLAH pada masa kita sakit…. Dan sudah pasti waktu ada kematian…

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain? Karena… Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya mengurus sendiri tanpa bergantung pada-NYA.  Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka… Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu dimana ALLAH bukan lah yang paling utama dalam hidup ku. (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang telah DIA berikan kepada kita. DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita sebelum kita meminta.

RENUNGKANLAH. …

Ya aku CINTA ALLAH .
Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
IA-lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
Tanpa-NYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.

Dari-Nyalah segala rizqi yang ku terima
Hanya pada-Nya aku meminta
dan Kehadapan-Nya jualah aku kembali

(lebih…)

Juodoh…!!

Posted: November 10, 2009 in Kliping, Renungan Bantal, Sekedar iseng
Tag:,

.,m

Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan.


Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik,

itu bukan pilihan, itu kesempatan.


Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan.


Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan
segala kekurangannya, itu bukan kesempatan,

itu adalah pilihan.


Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang
terjadi, itu adalah pilihan.


Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih
menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih
untuk mencintainya, itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik,
datang bagai kesempatan pada kita. (lebih…)

kmf“Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we’re curious… And curiousity keeps leading us down new paths”.Walt Disney

Hidup terkadang sangat keras  dan menghantam kita dengan begitu tiba-tiba. Beberapa memang tidak terlalu berat, namun tak sedikit juga yang membuat kita terpuruk hingga jatuh terkapar. Ketika ini terjadi,  hal terpenting bukanlah memikirkan seberapa keras pukulan yang telah kita dapatkan, namun yang terpenting adalah seberapa kuat kita dapat menghadapinya. Untuk bisa bangkit kembali, menemukan jalan,  menemukan kekuatan untuk tetap bergerak maju, dan memiliki kemauan untuk terus bergerak maju meskipun hambatan dan cobaan datang menghadang.

Melakukannya memang tidaklah semudah membalik telapak tangan, butuh karakter yang kuat dan mental yang sangat positf. Karakter inilah yang harus dibentuk dan karakter tidak ditentukan oleh apa yang terjadi pada kita, namun dengan bagaimana kita bereaksi terhadap apa yang terjadi. Ketika hempasan itu datang, apakah kita tetap berdiam diri? Atau kita melihat jauh kedalam, meraih segenap kekuatan, berfikir dengan positif dan bangkit kembali berdiri di atas kedua kaki untuk tetap bergerak maju? Pilihan itu ada di tangan kita.

Lupakan Penyesalan
Mulailah untuk melupakan kesalahan dan penyesalan masa lalu. Penyesalan yang berkepanjangan, tidak memberikan  manfaat yang baik. Bila tetap “tinggal” di masa lalu, waktu kan terhenti hingga kita terjebak pada satu titik dan tidak   bergerak maju. Setiap manusia pasti berbuat salah,  entah dalam pekerjaan, pada teman atau hubungan soisal.  Bagaimanapun, kita harus belajar untuk melupakan kesalahan-kesalahan masa lalu, untuk mulai belajar bagaimana  menempatkan pengalaman ini di belakang, karena hidup terlalu singkat untuk mengingat kesalahan dan tenggelam dalam penyesalan-penyesalan. Kita hidup di waktu sekarang ini bukan masa lalu. Hanya kita yang dapat memaafkan diri kita sendiri untuk dapat tetap bergerak maju.

Belajar dari Kegagalan
Belajar dari kegagalan dengan Penyesalan adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Menyesal adalah luapan emosi, sebuah perasaan kecewa ditambah dengan perasaan malu atau bersalah. Namun, ketika kita melihat kembali pada keadaan masa lalu dan ketika kegagalan itu memberikan informasi yang sangat berharga untuk mengoreksi tindakan saat ini,  agar tidak berbuat kesalahan yang sama, itulah yang dinamakan belajar.  Ini memungkinkan untuk mengevaluasi apa -apa saja yang mungkin dapat membuat hasil dan apa yang tidak. Dan yang lebih penting lagi, sering bila kita “dihapus” dari sebuah situasi atau keadaan, kita akan dapat melihat sesuatu lebih objektif dan lebih jelas yang dapat digunakan untuk membuat pilihan yang lebih baik untuk dapat tetap bergerak maju.

Minta Bantuan
Kita tidak hidup sendiri.  Kadang memang kita merasa demikian, tapi percayalah ada banyak orang yang  akan senang hati mengulurkan tangan mereka dengan tulus dan ikhlas jika dimintai pertolongan. Yang perlu dilakukan hanyalah “meminta” bantuan. Mulailah berfikir untuk bekerja sama, dengan tetangga, teman-teman, atau siapapun. Sering kali kita takut untuk “meminta”, karena secara sadar ataupun tidak, terlintas dalam pikiran “apakah kita layak untuk dapat menerima bantuan”. Coba kita renungkan: kita dikelilingi oleh ribuan bahkan jutaan orang yang di ciptakan secara spesifik oleh Sang Maha Pencipta, dengan tujuan yang sangat jelas. Tangan untuk memberi pertolongan, yang melekat ke bahu, lalu “tersambug” ke wajah yang mana wajah itu sangat berseri -seri, berharap untuk dapat membantu kita agar tetap bergerak maju. ^_^

(lebih…)

Warisan-Mu untuk-ku

Posted: Juli 10, 2009 in Renungan Bantal, Untukmu
Tag:,

legacyBagi orang mukmin, semua kejadian dan kondisi kehidupan yang dia temui harus dianggap sebagai batu ujian untuk selanjutnya dikelola sebagai pengingat dan motivator agar selalu menempuh jalan hak. Bagi orang yang tidak bisa menjadikan segala kejadian “baik atau buruk- sebagai pendorong untuk istiqamah, konsisten dalam kebenaran dan beramal shaleh, berarti ia tidak sabar atau tidak syukur. Ia bisa jadi juga disebut putus asa, suatu sikap yang hanya dimiliki orang kafir dan tidak layak menjadi sifat dan sikap orang mukmin.

Seorang mukmin, sikap dan prinsip nya adalah seperti dinyatakan oleh Rasulullah SAW bersabda:
Alangkah menakjubkan perkara atau urusan orang mukmin, Allah SWT tidak menetapkan untuknya satu ketentuan (apapun) melainkan hal itu baik baginya. Ini tidak terjadi selain pada orang mukmin. Dan bila ia ditimpa kecukupan rezeki ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan bila ia ditimpa kesempitan atau kesusahan ia bersabar dan itu baik baginya.
Bersyukur bila mendapat kenikmatan menjadikan orang itu tidak sombong dan lupa daratan. Hal itu akan menguntungkan bagi orang itu sendiri. Sementara sikap tabah dan sabar bila ditimpa musibah menyebabkan tidak memperpanjang penderitaan. Dan bila ia ditimpa kesempitan dan permasalahan ia bersabar dan itu baik baginya

Ikhlas dalam Menghadapi segala sesuatu, Ikhlas, satu kata penerapannya sangat sulit dikehidupan kita. Saya sendiri belajar, ya masih belajar menerapkan ikhlas disetiap amal ibadah dan perbuatan saya.  Ikhlas yang sangat sederhana dan itu menjadikan ikhlas yang saya terapkan. Walaupun belum sempurna.  makna ikhlas sangat simple dengan memberikan umpama:

“Kalau kamu menginginkan ikhlas disetiap perbuatan dan amal ibadah kamu berlakulah seperti orang membuang hajat (air besar)”

(lebih…)

SosialBangsa yang makmur sejahtera dan penuh dengan kedamaian menjadi dambaan seluruh masyarakat Indonesia. Namun tidak dapat dipungkiri, semua itu tidak akan dapat terwujud dengan mudah. Terciptanya perdamaian dan kemakmuran bangsa tidak bisa dilepaskan dari masyarakat yang berbudaya dan bermoralitas, dan bersifat transformatif. Budaya dan moral, kedua itu sangat penting untuk menopang tegaknya bangsa dan negara. Suatu negara tidak hanya memerlukan pemerintahan yang baik, tetapi juga masyarakat yang berbudaya dan bermoral

Saat ini Indonesia sedang menghadapi persoalan yang amat rumit. Berupa adanya gejala semakin merosotnya praktik nilai-nilai moralitas dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perubahan itu menyangkut seluruh segi kehidupan masyarakat. Di antaranya bidang sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan, yang menyangkut perubahan strukturil dan perubahan pada sikap serta tingkah laku dalam hubungan antar manusia. Kehancuran moralitas kita banyak dipengaruhi oleh moralitas bangsa luar yang tidak sesuai dengan moralitas yang kita miliki. Salah satunya, kapitalisme. Semuanya berorientasi pada kepentingan individu. Sadar atau tidak, sekarang kita terjajah lagi, meskipun tidak tampak secara langsung. Penjajahan ini berupa penjahaan ideologi dan ekonomi. Penjajahan ideologi berdampak pada cara pandang kita. Sementara penjajahan ekonomi berdampak pada finansial.

Bangsa kita terjebak oleh arus kapitalis. Masyarakat kita kembali diingatkan pada torehan pena pujangga Ronggowarsito, “Yen ora melu edan, ora keduman (jika tak ikut gila, tak kebagian).” Serakah, itulah gambaran bangsa kita sebenarnya. Jatuhnya moralitas bangsa ini memang tak seheboh terpuruknya pasar finansial global. Namun, perlahan tapi pasti, bangsa ini akan terbawa gaya gravitasi alias menukik. Kita dengan mudah terlalap iklan. Gaya hidup konsumerisme dan hedonisme nyaris tak terlepaskan dari masyarakat kita. Kita terkungkung pada kemasan, tanpa mengindahkan substansi isi. Beli karena keinginan, bukan kebutuhan, itulah bangsa ini.

Orang kita mengaku pintar, tapi mudah diperalat orang asing. Bangsa ini mengaku kaya, tapi kekayaan melimpah itu tidak dinikmati oleh warganya.  Kekayaan alam Indonsesia sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan agar tak ada lagi rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kebodohan diperangi dengan program pendidikan bagi semua kalangan baik secara formal maupun informal. Kebobrokan moral harus diberantas agar individu-individu terhindar dari perilaku yang merugikan diri, orang lain, dan masyarakat.

(lebih…)