Bila Moral tak Segera Bangkit

Posted: Juni 28, 2009 in Artikel, Renungan Bantal
Tag:,

SosialBangsa yang makmur sejahtera dan penuh dengan kedamaian menjadi dambaan seluruh masyarakat Indonesia. Namun tidak dapat dipungkiri, semua itu tidak akan dapat terwujud dengan mudah. Terciptanya perdamaian dan kemakmuran bangsa tidak bisa dilepaskan dari masyarakat yang berbudaya dan bermoralitas, dan bersifat transformatif. Budaya dan moral, kedua itu sangat penting untuk menopang tegaknya bangsa dan negara. Suatu negara tidak hanya memerlukan pemerintahan yang baik, tetapi juga masyarakat yang berbudaya dan bermoral

Saat ini Indonesia sedang menghadapi persoalan yang amat rumit. Berupa adanya gejala semakin merosotnya praktik nilai-nilai moralitas dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perubahan itu menyangkut seluruh segi kehidupan masyarakat. Di antaranya bidang sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan, yang menyangkut perubahan strukturil dan perubahan pada sikap serta tingkah laku dalam hubungan antar manusia. Kehancuran moralitas kita banyak dipengaruhi oleh moralitas bangsa luar yang tidak sesuai dengan moralitas yang kita miliki. Salah satunya, kapitalisme. Semuanya berorientasi pada kepentingan individu. Sadar atau tidak, sekarang kita terjajah lagi, meskipun tidak tampak secara langsung. Penjajahan ini berupa penjahaan ideologi dan ekonomi. Penjajahan ideologi berdampak pada cara pandang kita. Sementara penjajahan ekonomi berdampak pada finansial.

Bangsa kita terjebak oleh arus kapitalis. Masyarakat kita kembali diingatkan pada torehan pena pujangga Ronggowarsito, “Yen ora melu edan, ora keduman (jika tak ikut gila, tak kebagian).” Serakah, itulah gambaran bangsa kita sebenarnya. Jatuhnya moralitas bangsa ini memang tak seheboh terpuruknya pasar finansial global. Namun, perlahan tapi pasti, bangsa ini akan terbawa gaya gravitasi alias menukik. Kita dengan mudah terlalap iklan. Gaya hidup konsumerisme dan hedonisme nyaris tak terlepaskan dari masyarakat kita. Kita terkungkung pada kemasan, tanpa mengindahkan substansi isi. Beli karena keinginan, bukan kebutuhan, itulah bangsa ini.

Orang kita mengaku pintar, tapi mudah diperalat orang asing. Bangsa ini mengaku kaya, tapi kekayaan melimpah itu tidak dinikmati oleh warganya.  Kekayaan alam Indonsesia sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan agar tak ada lagi rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kebodohan diperangi dengan program pendidikan bagi semua kalangan baik secara formal maupun informal. Kebobrokan moral harus diberantas agar individu-individu terhindar dari perilaku yang merugikan diri, orang lain, dan masyarakat.

Menurut Thomas Lickona (1992) terdapat sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa yaitu: meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, ketidakjujuran yang membudaya, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orangtua, guru, dan figur pemimpin, pengaruh “peer group” (kelompok sebaya) terhadap tindakan kekerasan, meningkatnya kecurigaan dan kebencian, penggunaan bahasa yang memburuk, penurunan etos kerja, menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara, meningginya perilaku merusak diri dan semakin kaburnya pedoman moral.

Apa yang disampaikan oleh Lickona tentang ciri penurunan moral yang berpotensi menghancurkan bangsa tergambar melalui wajah media di Tanah Air. Lalu bagaimana agar bangsa ini mampu bertahan bahkan menjadi maju dan berkembang?

Ada tiga musuh bangsa yang harus berpotensi menghancurkan bangsa yaitu kemiskinan, kebodohan, dan kebobrokan moral. Ketiga musuh tersebut harus secara simultan dan serius diperangi. Kemiskinan dapat diberantas dengan pembangunan ekonomi agar kesejahteraan dicapai oleh rakyat secara luas. Moralitas berkaitan dengan aktivitas manusia yang dipandang baik atau tindakan yang benar, adil, dan wajar. Karena itu masyarakat atau bangsa yang bermoral akan senantiasa menjunjung tinggi dan mengutamakan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, kerjasama, dan keadilan.

Dengan demikian pembangunan ekonomi saja tidak cukup membuat bangsa ini maju jika tidak diiringin dengan pembangunan moral. dan ini merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa untuk mewujudkannya, jangan biarkan bangsa ini kehilangan satu generasi atau bahkkan lebih. Oleh karena itu ayo kita berjuang memperbaiki moral bangsa dari lingkungan kita terkecil dan dimulai pada saat ini.

Komentar
  1. mariSHa mengatakan:

    Hemmm Lumayan dech’wacananx, Boleh jg.
    MaXin CerdazZZZ Ney^_^

  2. norjik mengatakan:

    inilah kenyataan negara kt bung. Memang sulit rasanya untuk merubah semua. Moral suatu bangsa adalah ibarat rasa di dalam sebuah makanan. Rasanya moral adalah suatu bentuk, wujud yang sudah memang mendarah daging di dalam bangsa dan kehidupan kita. Rasanya negara kita ini sudah ibarat tikus yang ada di dalam baskom yg slalu di lempar keju dari atas. Sepintas makmur krn ada keju trs menerus, tp tak pernah bisa menikmatin limpahan keju yg seharusnya menjadi milik kita smua itu.

  3. bluethunderheart mengatakan:

    malam bang
    pa cabar?
    oya ngomongin kapitalisme blue jadi ingat sama blue yg sudah lama tak pernah blue baca……..blue senang banget baca buku buku about kapitalisme
    benar bang segala sesuatu itu dimulai dari hal terkecil untuk memperbaiki moral kita dan blue setuju banget
    mantabe banget postingan abang blue ini
    salam hangats selalu

    i miss u

  4. geRrilyawan mengatakan:

    moral…saya pernah dapat cerita yang menggambarkan kenyataan pahit tentang hancurnya moral orang indonesia…mulai dari pejabat, artis, sampai orang-orang umumnylah. bingung saya. cuma bisa berusaha memperbaiki diri sendiri aja dulu deh…

  5. boyin mengatakan:

    saya setuju! ayo mulai dari sekarang dan dari diri sendiri

  6. sarahtidaksendiri mengatakan:

    wah…tajem banget nich…
    bangsa ini pasti bs lbh baik dari segi moral dan sebagainya asal mmg ada itikad dan usaha yg maksimal…amiiiiiiiiinnn

  7. bluethunderheart mengatakan:

    malam bang
    pa cabar?
    semangat dong ya bang
    selamat menconterng nantinya
    salam hangat selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s