Untuk-Mu Ibu…!

Posted: April 3, 2009 in Renungan Bantal, Wanita
Tag:,

IBU Menjadi ibu. Bagi banyak wanita adalah mimpi-mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta dan asahan rasa. Seruak cita itu adalah fithrah paling indah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan, rasa, kemuliaan. IBU . . . ! Mulia cukup dengan telapak kaki perjuangan. Karena tak seorang pria pun, memiliki kedudukan ini ; “Surga ditelapak Kaki Ibu”. Tak satu pria pun, Demi Allah, tak satu pria-pun.

Ibu . . . !

Panggilan yang begitu menggetarkan, membiruharu, menggemakan rasa terdalam di diri setiap wanita. Selalu dan senantiasa. Ada nuansa, cita, imaji dan gairah setiap kali kata tiga huruf plus tiga titik dan tanda seru itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil yang menyambut kehadiran.


Ibu . . . !

Ini kata tentang penegasan madrasah agung. Tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam. Ini adalah dermaga pengaduan paling luas saat mereka teraniaya. Ini belaian paling menentramkan saat mereka gelisah. Dan ini dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, . . . perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa (sekolah-sekolah yang megah). Indah rasanya bila suatu saat saudari-saudari-ku (wahai, kaum Hawa) dapat menjadi Madrasah bagi anak-anak Muslim kelak, mendidik anak-anak menjadi anak yang shaleh dan shalehah.

Ibu . . . !

Panggilan yang meneguhkan status kemanusiaan dan kehormatan. ingatlah Ibumu disebut tiga kali di depan, baru kemudian ayahmu. Begitulah Rasulullah SAW. menegaskan. “Ibu . . . Ibu . . . Ibu .. . . lalu Ayah . . .”. Ia juga panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi ketika harus berbaring beristirahat dan sakitnya tak tergantikan ketika melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang putra/putri pecah. Kehadiran makhluk mungil yang telah dinantinya.

Ibu . . . !

Banyak wanita yang kini enggan kemudian menjadi kata itu, maka kata itupun enggan menjadi mereka. Betapa sulit saat ini meminta wanita bersedia untuk mempunyai anak, mereka selalu mengatasnamakan kesibukan dan kesibukan, bisnis dan bisnis, yang kemudian mereka merasa bangga dengan sebutan Wanita Karier !, bukan bangga dengan kata “Ibu”. Uhg, sungguh ironis. Kata Ibu jadi enggan menyediakan dermaga tempat mereka menambat perahu hati, berlabuh dari galau kehidupan.

Ibu . . . !

Mungkin memang tak sesederhana itu. Karena posisi ibu adalah anugrah, yang keimanan-pun bukan jaminan Allah pasti mengaruniakannya pada setiap wanita. Yaa . . . persis sebagaimana ‘Aisyah, Hafshah, zainab binti Jahsy dan yang lainnya. Ya’ tapi mereka-kan Ummahatul mukminin, Ibu dari semua orang beriman, (itu sich kata saya) Pada posisi ini, memang. Tetapi mengandung, melahirkan, menyusui, menimang, adalah sebagian dari saat yang dinanti bersama hakikat kata Ibu . . ., sebagaimana yang dirasakan oleh Khadijah binti Khuwailid terhadap anak-anaknya (salah satunya putrinya Fatimah Az-Zahra’), namun tak juga dirasakan oleh ‘Aisyah sekalipun.

Atau kadang, penantian pannjang, kegelisahan, kecemasan dan perasaan bercampur aduk lainya hadir jika panggilan itu (Ibu) tak juga segera hadir adalah sebagai ujian lain dari Allah. Namun dengan selalu berusaha dalam kesabaran, lalu Allah menjawab di antara doa-doa hamba-Nya, seperti istri Ibrahim AS. dengan kelahiran si-shalih Ishaq, istri ‘Imran dengan kelahiran si-suci Maryam dan istri Zakariyya dengan kelahiran si-alim Yahya. Setelang penantian yang panjang, doa yang menghiba dan rasa yang tersembilu akhirnya di kabulkan oleh Allah  SWT.

Ibu . . . !

Lepas dari itu, sekali lagi adalah menakjubkan setiap urusan orang mukmin. Persis seperti kata Rasulullah, menakjubkan ! karena setiap halnya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika disinggahi nikmat, ia bersyukur, maka kesyukuran itu baik baginya. Jika ditemui musibah ia bersabar, maka sabar itu baik baginya. Jika syukur dan sabar itu dua ekor tunggangan, kata ‘Umar bin Khaththab,ra, “aku tak peduli harus mengendarai yang mana . . .”

Yach, menjadi Ibu hakiki, yang melahirkan ataupun tidak, setelah ikhtiyarnya paling gigih, doa paling tulus, dan tawakkal paling terpasrah adalah kemuliaan tanpa berkurang sepeserpun. Tidak sedikitpun. Semuanya mulia.

Ibu . . . !

Kita akan berjumpa dan meniti kemulian-kemuliaan beliau, mungkin di waktu lain, Insya Allah. Emmm… sekedar agar bidadari cemburu padamu, dengan kalian (saudara-saudaraku muslimah) menjadi seorang Ibu, maka takkan tersaingi oleh-nya selama-lamanya (iya kah ?, makanya ayo bersiap diri untuk menjadi seorag Ibu yang setiap langkahnya selalu dengan Ridha Allah). Ya, Ibu . . . Melodi paling harmoni yang menggemakan jagad dengan jihad agungnya.

Komentar
  1. senoaji mengatakan:

    tidak hanya surga jagad ini pun ditelapak kaki ibu benarkah itu kawan??? salut untuk makhluk paling indah di bumi ini, Ibu.

  2. dhilacious mengatakan:

    she is the greatest creature in the world.
    love u mom..

  3. Myryani mengatakan:

    saya jadi pengen peluk n cium ibu………

  4. bocahbancar mengatakan:

    Ibuuu……I love You so much with everything all of I have…

    Ibuuuu….Kaulah cintas sejatiku, cinta yang menggambarkan kasih sayang Allah yang telah memberikan udara secara gratis…tis…tis…

    Hikss..hiks…Ibu aku ingin pulang…..

  5. Rindu mengatakan:

    Untuk saya, syurga di ujung pusara Ibu … ya ALLAH sampaikan salam saya untuk Ibu di syurga🙂

  6. bluethunderheart mengatakan:

    selamat sianmg bang
    apakah blue akan mengcomand postingan abang yanag keren ini?
    jawabannya hanyalah sebuah pujian dan bintang untuk maha postingan abang kita ini.
    nice dan kita mesti menghargai wanita tentunya
    salam hangat dalam dua musimnya blue
    met akhir pekan abang
    kezedot.wordpress.com mampir ya hehehe………….

  7. Catatan Muslim mengatakan:

    Terima kasih Ibu…!!🙂

  8. Marisha mengatakan:

    e’eyaW, ditampilin Tho tulisannya hehehe…
    “Ibu. . ., muach_muach dhueh”

  9. Catatan Muslim mengatakan:

    Ya Allah… Somoga Ridho-Mu selalu bersama kami (dan kedua Orang tua), semoga Lindungan-Mu selalu kepada kedua orang tua kami, seperti Kau selalu melindungi, orang-orang Yang-Kau kasihi..
    Amin..!!

  10. Zian X-Fly mengatakan:

    Selamat siang…

  11. achoey mengatakan:

    Aku mencintai ibu
    Aku merindukannya

  12. wi3nd mengatakan:

    daku calon ibu nantinya..
    cant wait when mY son call me” bunda.. ”
    [baha9ianya..🙂 ]
    but now
    iLove my mom much..🙂

  13. angga erlangga mengatakan:

    greatz…🙂

    tampilan baru niech… hehee…

    Iya ni mas.. wajah baru..😀, makasih..!!

  14. hmcahyo mengatakan:

    mamir aja mas😀

  15. randualamsyah mengatakan:

    Aku mencintaimu Bunda…;

  16. suwung mengatakan:

    jadi pengen nengok simboke soewoeng

  17. bluethunderheart mengatakan:

    selamat pagi bang
    semangat yuk semangat lagi ok
    salam hangat selalu

  18. ekaria27 mengatakan:

    Ibu adalah telaga teduh pelindung jiwa. Tanpa pamrih, tanpa minta balas jasa.

  19. Ria mengatakan:

    Ibu…aku memanggilnya mama
    *jadi kangen hiks😦 *

  20. tikno mengatakan:

    Posting yang bagus sekali.
    Ada ungkapan tentang pekerjaan sebagai Ibu, yaitu:
    Pekerjaan yang tidak dibayar, tidak mengenal hari libur, jarang dihargai, dan mustahil untuk mengundurkan diri dari tugas Ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s