~ADA BERJUTA ORANG BAIK YANG TIDAK KITA KENAL~
Pola pikir “Lelaki pendek, hitam, lebih jelek dari untanya” seperti itu, sesungguhnya hari ini begitu mewabah. Kita hidup di tengah masyarakat yang hanya melihat harga orang lain dari tampilan luarnya. Maka di sini berlaku hukum ketenaran, keterkenalan, kemashuran. Sesuatu yang sangat mudah di reka-reka, oleh industri media yang menggurita. Raksasa media hanya punya satu bahasa: bila kamu tidak terkenal, maka kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanyalah “Lelaki pendek, hitam, lebih jelek dari untanya”. Industri media semakin mengokohkan , bahwa menjadi terkenal saat ini tidak harus karena kebaikannya. Ia bisa membuat yang buruk terkesan baik, alami, manusiawi, dan bagian dari hak asasi. Sebaliknya, ia bisa pula menampilkan orang-orang baik, dalam format yang kumal, lusuh, dan tak punya gairah hidup.
Semua ini telah memaksa orang dengan perlahan namun sangat massif, untuk merekam di bawah alam sadarnya, bahwa orang-orang besar ialah mereka yang berulang-ulang tampil di televisi, tampil di atas panggung, menyeruak di atas pentas. Padahal, ada berjuta orang baik yang tak kita kenal. Ada berjuta orang baik yang tak pernah dikenal. Ada berjuta orang baik, yang seumur hidupnya, hingga akhir hayatnya, tak pernah sedetikpun muncul di televisi. Memahami prinsip ini sangat penting. Tidak semata etika soal menghormati sesama. Lebih dari itu, sikap ini, kali pertama kepentingannya adalah untuk kita sendiri. Ialah agar kita tidak pernah sedetikpun merasa lebih baik dari orang lain, dalam hal apa saja. Agar kita tidak mengukur kebaikan dengan kacamata kita sendiri. Selalu memandang orang lain tidak sebaik dirinya. Sungguh, itu adalah kesalahan besar.
Dunia yang luas ini, semestinya memberi kita runag kesadran, bahwa begitu banyak orang yang tidak kita kenal. Terlebih orang-orang baik di antara mereka. Siapapun kita sejujurnya bukan siapa-siapa. Dilihat dari kenyataan bahwa ada berjuta orang baik di luar sana, yang mungkin tidak pernah kita kenal sebelumnya. Dan mungkin tak akan pernah kita kenal selamanya. Sanagat mungkin di anatara mereka adalah orang-orang yang jauh lebih baik, lebih terhormat, lebih banyak kebajikannya, lebih luas pengetahuannya. Menjadi baik, tidak serta merta harus terkenal. Sebagaimana orang-orang terkenal, kesohor, bukan berarti ia orang-orang yang layak ditiru. Ini adalah zaman dimana ketenaran bisa dengan modal murahan, termasuk menggadaikan kehormatan diri.
Di hari-hari yang penuh fitnah ini, kita harus yakin, ada begitu banyak orang yang tidak kita kenal, tapi mereka jauh lebih baik dari kita. Kesadaran ini akan memacu dua hal sekaligus : kita akan terus berbenah, manata diri dan meningkatkan kebaikan. Kedua, bahwa kita tidak boleh merasa cukup, merasa lebih baik, sebab hanya di Akhirat kelak kita kan tahu. Ada banyak orang baik yang memilih tidak dikenal. Ada berjuta orang-orang yang memilih jalan ini. Ya ternyata, ada berjuta orang baik yang tak kita kenal





selamat siang
abang entah mengapa blue terkesima dengan postingan babang kita ini
ringan memang namun indah banget
salam hangat selalu
datang ke gardu blue yah
dobleh yang malang
Maret 3, 2009
Postingan yang bagus kang…
Baru bisa blogwolking setelah sekian lama puasa dari dunia maya… hehe
apa kabar kang?
bujanglahat
Maret 3, 2009
Saya malah sering disepelekan gara-gara penampilan… tapi saya yakin, saya masih baik-baik saja kok! hehehe (maaf nggak nyambung)…
Andy MSE
Maret 3, 2009
Di hari-hari yang penuh fitnah ini
kata-katanya yoi…
senoaji
Maret 3, 2009
masih ada orang yang baik…percaya lah
thevemo™
Maret 4, 2009
dari sejuta itu, kadang ada dekat sekali dengan kita, tapi kita tetap saja tidak mau mengerti memahami dan mengenalinya…., ayo dicari orang yang baik itu…
munawar am
Maret 4, 2009
sdh saatnya kita cb untuk berkenalan dg org dan menanyakan apa dia “orang baik” ? spya kita kenal dg “orang baik” tersebut… **ngelantur mode:ON
norjik
Maret 4, 2009
masih aDa kok oran9 baik diluar sanah..
dan aku percaya ituh…
wi3nd
Maret 5, 2009
makanya bisnis pencitraan laku keras sekarang om
saya kadang rada bingung dengan terminologi orang baik, tapi saya setuju tiap orang punya suatu kelebihan dibanding kita, jadi ndak boleh sombong
mas stein
Maret 6, 2009
wah..nice post…aQ peracy mmg banyak org baik di luar sana, rasanya mmg sulit untuk mengenal seluruhnya, tp bertemu dgn memliki kenalan yg baik seorang sj sdh mrpakn anugerah jg buatQ pribadi..
Sarah Tahnia
Maret 7, 2009
Yap..seperti halnya kita misal berencana melakukan solo traveling ke kota lain, sbetulnya kita nggak perlu takud jg, karena diluar sana, orang baik lebi bnyk dari orang jahat. Lalu kita jg pasti bs membedakan, mana orang yang baik, dan mana orang yang jahat.
Hmm..btw, lam kenal maz..:-D
Prasetya Yudha
Maret 20, 2009
“Lelaki pendek, hitam, lebih jelek dari untanya”
Bang, saia suka sekali membac tulisan ini.
Juga tentang (kalau ngga salah) “Pemuda Andalusia dan Seekor Gajah”. Ngena banget isinya.
Terima kasih ia, sudah nginetin.
Salam,
rayyahidayat.
rayyahidayat
Maret 25, 2009